Tertipu Dua Kali: Kisah Pilu Pekerja Korban Agensi Fiktif dan Janji Gaji Gaib!

Tertipu Dua Kali: Kisah Pilu Pekerja Korban Agensi Fiktif dan Janji Gaji Gaib! · Avonetics
Pernahkah Anda merasa sudah bekerja keras, namun gaji tak kunjung tiba? Seorang pekerja baru-baru ini membagikan kisah mirisnya, menjadi korban penipuan kerja bukan hanya sekali, tapi dua kali berturut-turut. Kisahnya menjadi pengingat pahit akan bahaya agensi rekrutmen fiktif dan janji-janji pekerjaan yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
"Pekerjaan terakhir saya, ternyata adalah jebakan," ungkapnya. Ia mengira direkrut oleh agensi tenaga kerja sementara untuk pekerjaan membantu pengelolaan limbah. Namun, serangkaian 'bendera merah' mulai berkibar tak lama setelah ia mulai bekerja.
Read nextGaji Tinggi Tapi Disuruh Kerja Kayak Robot: Curhat Pekerja Lelah Dibombardir Syarat Loker Tak Masuk Akal
Ketika ia dan rekrutan lain tiba di lokasi, perusahaan tempat mereka seharusnya bekerja sama sekali tidak tahu tentang kedatangan mereka. "Mereka berasumsi kami datang melalui jalur perusahaan mereka dan membiarkan kami mulai bekerja," katanya, mengumpulkan jam kerja tanpa kejelasan kontrak atau bayaran.
Kecurigaan semakin memuncak ketika wanita yang merekrutnya tiba-tiba 'mengundurkan diri' seminggu kemudian, dengan alasan aneh bahwa ia hamil. "Saya dan perusahaan tempat saya bekerja mencoba menghubungi agensi itu selama setidaknya seminggu, tapi tidak ada yang menjawab," jelasnya. Dengan jam kerja yang menumpuk hingga 11 jam sehari, ia kini tidak dibayar sepeser pun.
Namun, penderitaannya tidak berhenti di situ. Ia kemudian mencoba pekerjaan 'audit pengiriman' yang menjanjikan. Modusnya: paket dikirimkan kepadanya untuk diperiksa dan dikirimkan kembali. Tapi lagi-lagi, ada masalah pembayaran. "Saya tidak akan dibayar sampai setelah bulan pertama atau semacamnya—benar-benar omong kosong," ujarnya frustrasi.
Your brand, right here.Reach story-obsessed listeners in 45+ languages → advertise on AvoneticsYang lebih mengkhawatirkan, wanita yang menjelaskan pekerjaan kedua ini "terdengar sangat mirip" dengan wanita yang merekrutnya di pekerjaan pertama. Ia adalah satu-satunya kontak yang bisa dihubungi dari daftar staf yang diberikan.
Kisah ini memicu berbagai reaksi dari komunitas online. "Saya tidak tahu apakah Anda berada di Amerika Serikat, tapi saya akan menelepon departemen tenaga kerja atau jaksa agung," saran seorang komentator. Mereka menambahkan, "Anda seharusnya tetap dibayar oleh perusahaan tempat Anda bekerja. Mereka seharusnya senang karena tidak perlu membayar potongan ke agensi kecuali mereka yang menjalankan penipuan atau terlibat dengan orang-orang yang menjalankan penipuan itu."
Banyak yang menyuarakan agar korban segera mencari bantuan hukum dan melaporkan kedua insiden penipuan ini. Mereka menekankan bahwa pekerja berhak mendapatkan upah atas jerih payahnya, terlepas dari validitas agensi yang merekrut mereka. Kisah ini menjadi peringatan bagi siapa pun yang mencari pekerjaan untuk selalu berhati-hati dan memeriksa latar belakang setiap tawaran pekerjaan, terutama jika ada janji-janji yang terlalu bagus untuk dipercaya.
Untuk mendengarkan lebih dalam analisis dan perdebatan seru tentang kasus ini, dengarkan episode terbaru Gaji Buta.