Keindahan di Balik Dinding yang Belum Selesai: Menemukan Makna Iman dalam Ketidakpastian Duka

Melalui kenangan hangat Benjamin Vo, keindahan arsitektur bata ekspos, dan kesetiaan Bunda Maria, kita diajak melihat duka bukan sebagai kegagalan spiritual, melainkan sebuah ruang suci yang sedang dibangun oleh kasih Allah.
Indonesian

Keindahan di Balik Dinding yang Belum Selesai: Menemukan Makna Iman dalam Ketidakpastian Duka · Avonetics

🎧 Podcast episode
Coming soon — Putri dan Eko are taking this one into the studio.

Duka tidak pernah mengikuti kalender kita. Ia tidak mengenal konsep kemajuan yang linier. Suatu hari kita merasa seolah-olah beban berat di dada kita telah terangkat, memungkinkan kita untuk tertawa dan menikmati hangatnya matahari. Namun, keesokan harinya, tanpa peringatan apa pun, rasa sakit itu kembali menusuk begitu dalam, menyisakan ruang hampa yang menyesakkan di dalam rumah kita. Bagi mereka yang sedang berjalan melewati lembah kelam kehilangan, ketidakpastian ini sering kali memicu rasa bersalah, seolah-olah ketidakmampuan untuk 'cepat pulih' adalah tanda runtuhnya iman mereka. Namun, dalam terang iman Katolik, duka yang mentah dan tidak menentu ini bukanlah sebuah kegagalan. Ia justru merupakan bukti nyata dari kasih yang mendalam. St. Paulus, dalam suratnya yang terkenal kepada jemaat di Korintus, mengingatkan kita bahwa kasih itu menanggung segala sesuatu, mempercayai segala sesuatu, dan mengharapkan segala sesuatu. Kasih tidak pernah gagal. Ia tidak berhenti saat napas terakhir diembuskan; ia hanya mengubah caranya bergerak di dunia ini. Saat ini, kita melihat segala sesuatu secara samar-samar, seperti bayangan di dalam cermin yang buram. Kita belum bisa melihat gambaran utuhnya. Metafora tentang sesuatu yang 'belum selesai' ini tercermin indah dalam diskusi mengenai arsitektur gereja bata ekspos, seperti Paroki Blessed Eugenio Ramírez di Kolombia. Bagi sebagian orang, dinding bata merah yang kasar tanpa plesteran terlihat mentah, seolah-olah pembangunannya belum selesai karena kekurangan biaya. Namun bagi yang lain, kesederhanaan itu justru memancarkan kejujuran yang kokoh. Tanpa hiasan cat yang megah atau dekorasi yang rumit, perhatian kita justru ditarik sepenuhnya kepada apa yang paling penting: altar, tabernakel, dan salib Kristus di mana kemenangan atas maut terjadi. Duka kita sangat mirip dengan dinding bata ekspos itu. Ia kasar, tidak dipoles, dan memperlihatkan retakan-retakannya kepada dunia. Namun, di dalam keremangan dan kerapuhan itulah Allah hadir. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja untuk menjadi orang beriman. Kitab Suci sendiri dipenuhi oleh jeritan manusia yang bertanya 'mengapa' kepada Pencipta mereka. Dalam kisah nyata kehidupan Benjamin Vo, seorang remaja berusia lima belas tahun yang dipanggil pulang ke surga, kita melihat bagaimana kasih abadi itu terus hidup. Benjamin adalah seorang pemuda yang cerdas dan penuh kasih, yang menghabiskan hari-harinya dengan merancang aplikasi komputer dan bermimpi tentang maskapai penerbangan imajinasinya, 'con chim airlines'. Bahkan dalam kenangan keluarga, ia pernah menawarkan seluruh isi celengan kecilnya untuk membantu pamannya yang membutuhkan—sebuah tindakan kasih murni tanpa pamrih. Kini, setelah kepulangannya akibat penyakit leukemia, keluarganya terus menapaki jalan duka yang berliku. Sang ayah mencatat momen-momen berat ketika adik Benjamin, mengungkapkan betapa ia merindukan kakaknya untuk bermain video game bersama. Kerinduan itu juga hadir lewat mimpi-mimpi indah: yang bermimpi naik roller coaster bersama sang kakak, dan sang ibu yang mendengar suara lembut Benjamin memanggilnya di keheningan malam. Saat menghadapi duka yang begitu besar, umat Katolik sering kali berpaling kepada Bunda Maria. Bagi mereka yang merenungkan ayat Matius 12:46-50, di mana Yesus bertanya mengenai siapakah ibu dan saudara-saudara-Nya, tindakan ini bukanlah sebuah penolakan terhadap Maria. Sebaliknya, Yesus sedang mendefinisikan ulang arti keluarga berdasarkan ketaatan iman. Bunda Maria adalah teladan utama dari jiwa yang melakukan kehendak Bapa dengan sempurna. Ia berdiri di bawah kaki salib, membiarkan hatinya ditembus oleh pedang duka, menemani Putranya yang wafat di usia muda. Maria memahami betul rasa sakit dari sebuah kehilangan yang tampak tidak adil di mata manusia. Kini, di surga, Benjamin tidak sendirian. Kita memiliki harapan besar bahwa ia telah bertemu dengan sahabat surgawinya, Santo Carlo Acutis. Dua remaja yang memiliki minat yang sama pada komputer, dipanggil pulang pada usia yang sama, oleh penyakit yang sama. Mereka kini berjalan bersama dalam cahaya keabadian yang sempurna, tidak lagi terhalang oleh cermin yang buram. Bagi kita yang masih berziarah di bumi, duka yang kita bawa adalah tanda bahwa kita pernah mencintai dengan sangat mendalam. Dan dinding bata ekspos yang kasar di dalam hati kita akan terus berdiri, kokoh dalam iman, hingga saatnya nanti kita dipersatukan kembali dalam bait suci surgawi yang megah. Bagaimana kedua host podcast kami merenungkan kedalaman iman dan kenangan manis Benjamin ini dalam kehangatan doa? Simak selengkapnya di episode terbaru kami.

0:00
0:00
Link copied ✓