Dia Minta Tolong Saat Depresi Pascamelahirkan — Lalu Boks Bayinya Kosong

Dia Minta Tolong Saat Depresi Pascamelahirkan — Lalu Boks Bayinya Kosong · Avonetics
Ada satu kalimat yang membuat seorang ibu muda kehilangan rutinitas paling sederhana dalam hidupnya: menidurkan putrinya sendiri.
Kalimat itu adalah 'aku belum siap jadi ibu.'
Read nextBayar PAUD Rp 150 Juta per Tahun, Ibu Ini Kaget Masih Ditagih Camilan untuk Sekelas!
Ia mengucapkannya saat berada di titik terendah masa nifas. Obat yang ia minum saat itu salah — dosisnya tidak cocok dengan tubuhnya, dan ia menjadi sangat tidak stabil. Ia punya riwayat panjang kecemasan, depresi, dan PTSD. Setelah melahirkan, semuanya menyerbu sekaligus.
Maka ia melakukan hal yang selama ini selalu dianjurkan kepada ibu-ibu yang sedang tenggelam: ia meminta bantuan. Ia melibatkan lembaga perlindungan anak dalam urusannya sendiri, dengan keyakinan bahwa mereka datang untuk menolong.
Yang ia rasakan justru sebaliknya.
'Aku pikir mereka bisa membantu, ternyata mereka tidak membantu,' begitu inti pengakuannya. Menurutnya, sistem itu jauh lebih siap mengambil seorang anak daripada menolong ibunya melewati masa pascamelahirkan.
Sekarang putrinya berada dalam pengasuhan sang ayah. Sang ibu berdoa setiap hari, memohon keajaiban, dan menyebut dirinya tidak peduli apa pun kepercayaan orang lain — ia hanya butuh doa, harapan, apa pun yang bisa membuat semua ini berlalu.
Satu hal yang ia tegaskan berkali-kali: ia tidak pernah menyakiti anaknya. Tidak sekali pun. Ia hanya mengaku sedang tidak sanggup.
Dan ia menolak tenggelam dalam penyesalan. Obatnya sudah diganti. Ia menyebut dirinya kini jauh lebih stabil dan siap kembali menjadi ibu. 'Aku tidak akan menghukum diriku sendiri,' katanya. 'Aku tidak sedang mengasihani diri. Aku ingin jadi lebih baik, dan aku tahu aku bisa.'
Kisahnya langsung membelah pembaca menjadi dua barisan.
Barisan pertama datang membawa selimut.
'Kamu bukan ibu yang buruk, kamu tidak gagal. Kamu akan mendapatkan anakmu kembali,' tulis seorang komentator, yang menyarankan sang ibu memakai waktu ini untuk beristirahat, membiasakan tubuh dengan obat barunya, lalu kembali lebih kuat. Ia menyebut situasi ini sekadar gundukan kecil di jalan yang bahkan pernah menimpa ibu-ibu terbaik.
Komentator lain menulis kalimat yang paling banyak dibagikan ulang: 'Tubuhmu yang mengkhianatimu. Itu bukan salahmu.' Ia menambahkan bahwa masa nifas adalah periode yang sangat berat bagi banyak perempuan, dan sang ibu tidak sendirian dalam perjuangan itu.
Orang yang sama juga menyoroti sosok sang ayah. Menurutnya, patut disyukuri bahwa anak itu punya ayah yang baik, karena membesarkan anak butuh banyak tangan — dan terlalu banyak laki-laki yang punya anak tapi menolak menjadi ayah.
Barisan kedua tidak kalah peduli, tapi jauh lebih dingin.
Your brand, right here.Reach story-obsessed listeners in 45+ languages → advertise on Avonetics'Apakah kamu sedang didampingi secara hukum? Mungkin kamu perlu mencari penasihat hukum,' tulis seorang komentator. Ia melanjutkan dengan pertanyaan yang paling praktis dari seluruh percakapan: apakah pekerja sosial sudah memberikan langkah-langkah dan target yang harus dipenuhi agar reunifikasi benar-benar terjadi?
Yang lain berargumen lebih agresif lagi: daftar kelas parenting sekarang, siapkan konseling, susun rencana sendiri sebelum pihak berwenang menyatakan bahwa sang ibu 'membutuhkan layanan mereka'. Dahului mereka, katanya.
Ada juga yang mendorong dari sisi medis. 'Kamu butuh lebih banyak bantuan. Sudahkah kamu bicara dengan dokter kandunganmu dan menceritakan apa yang sedang terjadi?' tulis seorang pembaca.
Sebagian lagi mengaku bingung dengan detail yang belum lengkap. 'Aku tidak tahu harus membantu bagaimana karena aku tidak tahu apa yang terjadi. Apakah kamu sendiri yang menghubungi mereka, atau orang lain?' tanya seorang komentator.
Dan satu komentar menawarkan sesuatu yang paling mendekati harapan konkret: jika ada ayah yang protektif, kecil kemungkinan anak diambil lewat jalur pengadilan — apalagi ketika akar masalahnya, yaitu pengobatan yang salah, sudah diperbaiki.
Di situlah dua barisan itu bertabrakan.
Satu sisi berkata: kasih sayang dulu, pemulihan dulu, jangan tambahkan beban pada ibu yang sedang rapuh. Sisi lain berkata: kelembutan tidak mengisi berkas, dan yang menentukan nasib seorang ibu di meja administrasi adalah dokumen, jadwal konseling, dan pengacara.
Yang membuat kisah ini terasa menusuk bagi banyak orang tua adalah pelajaran pahit di dalamnya: seorang perempuan berkata jujur tentang kondisi mentalnya, dan kejujuran itu berubah menjadi berkas.
Banyak pembaca menyuarakan ketakutan yang sama — bahwa cerita seperti ini justru mengajari ibu-ibu lain untuk diam, untuk menyembunyikan gejala, untuk berpura-pura baik-baik saja sampai benar-benar tumbang.
Sementara itu, sang ibu masih menunggu. Obatnya sudah diganti. Ia mengaku sudah stabil. Ia masih menyimpan kain kecil beraroma bedak dan boks bayi yang belum ada penghuninya.
Dan ia mengulang kalimat yang sama seperti mantra: aku tidak pernah menyakiti anakku, aku hanya belum siap saat itu, dan sekarang aku siap.
Dua host Curhat Orang Tua membedah habis kisah ini di episode terbaru — dan mereka tidak sepakat soal apa yang harus dilakukan ibu ini besok pagi.