Bayar PAUD Rp 150 Juta per Tahun, Ibu Ini Kaget Masih Ditagih Camilan untuk Sekelas!

Bayar PAUD Rp 150 Juta per Tahun, Ibu Ini Kaget Masih Ditagih Camilan untuk Sekelas! · Avonetics
Memasuki tahun ajaran baru di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) seharusnya menjadi momen yang penuh kegembiraan. Namun, bagi seorang ibu muda yang baru saja mendaftarkan anaknya ke sebuah sekolah swasta bernilai puluhan juta rupiah, momen ini justru diwarnai kebingungan akibat kebijakan konsumsi yang tak biasa.
Setelah membayar biaya pendidikan tahunan yang mencapai hampir Rp 150 juta, ia terkejut saat menerima kalender kegiatan sekolah. Bukan jadwal pelajaran atau orientasi yang menyita perhatiannya, melainkan jadwal giliran membawa camilan. Sekolah mewajibkan setiap orang tua untuk membawa paket camilan kemasan yang cukup untuk dibagikan kepada seluruh siswa di kelas, bukan hanya untuk anak sendiri.
Read nextDia Minta Tolong Saat Depresi Pascamelahirkan — Lalu Boks Bayinya Kosong
Dalam satu kelas yang berisi 20 anak, sang ibu mendapatkan giliran dua kali dalam sebulan. Artinya, ia harus menyediakan minimal 40 kemasan makanan ringan setiap bulan. Hal yang semakin membuat heran adalah sekolah memberikan daftar merek makanan tertentu yang cukup mahal dan spesifik, bukan sekadar biskuit biasa.
"Saya mampu membelinya, tetapi ini soal prinsip. Jika sudah membayar SPP sebesar itu, bukankah seharusnya fasilitas dasar seperti camilan harian sudah ditanggung oleh sekolah?" ungkap ibu tersebut saat menceritakan keresahannya.
Cerita ini mendadak memicu perdebatan sengit di kalangan orang tua murid. Banyak yang merasa simpati dan menyetujui bahwa sekolah swasta berbiaya tinggi seharusnya tidak lagi membebankan kebutuhan logistik harian kepada para wali murid.
Your brand, right here.Reach story-obsessed listeners in 45+ languages → advertise on AvoneticsSalah satu wali murid berargumen bahwa kebijakan ini berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. Membagikan makanan kemasan olahan pabrik secara masal dianggap kurang bijak dibandingkan membiarkan orang tua membawa bekal sehat seperti potongan buah atau olahan rumah sendiri. Selain itu, faktor alergi makanan pada anak-anak usia balita juga menjadi kekhawatiran utama.
Namun, tidak sedikit pula orang tua yang mendukung sistem giliran ini. Bagi kelompok yang setuju, membawa camilan sekelas justru dianggap menghemat waktu dan beban pikiran. Mengeliatnya rutinitas pagi hari sering kali membuat orang tua kewalahan jika harus menyiapkan bekal bervariasi setiap hari.
Dengan sistem giliran, orang tua hanya perlu repot dua hari dalam sebulan, sementara di hari-hari sisanya anak mereka mendapatkan camilan dari sekolah secara gratis. Selain itu, momen menjadi pembawa camilan sering kali membuat anak merasa bangga dan gembira karena bisa berbagi dengan teman-teman sekelasnya.
Lantas, apakah sistem ini bentuk efisiensi yang saling menguntungkan atau sekadar pengalihan beban operasional sekolah? Para pembawa acara di podcast Curhat Orang Tua mengupas tuntas dilema persekolahan anak ini dengan sudut pandang yang hangat dan penuh gelak tawa.