AvoneticsDilema Kita › story

Putrinya Bandingkan Sang Ayah dengan Karakter Horor 'Backrooms', Ibu Rumah Tangga Ini Sadar Terjebak Pernikahan Beracun

Pengakuan jujur seorang ibu tentang kekerasan emosional, kontrol finansial suami, dan rasa bersalah mendalam terhadap anak-anaknya.
Indonesian

Putrinya Bandingkan Sang Ayah dengan Karakter Horor 'Backrooms', Ibu Rumah Tangga Ini Sadar Terjebak Pernikahan Beracun · Avonetics

🎧 Podcast episode
Coming soon — Eko dan Putri are taking this one into the studio.
Sponsored
Volicci custom graphic tees, hoodies & die-cut stickers, a fresh original design every day. Learn more →

Sebuah pengakuan emosional dari seorang ibu rumah tangga berusia 42 tahun membuka mata banyak orang tentang betapa halusnya isolasi finansial dan kekerasan emosional terjadi dalam sebuah pernikahan. Mengasuh dua anak dengan spektrum autisme, perempuan ini mengaku hidup dalam bayang-bayang ketakutan akibat amukan verbal suaminya yang terjadi hampir setiap hari.

Kenyataan pahit ini terkuak setelah putri remajanya yang berusia 17 tahun memintanya menonton sebuah tayangan horor psikologis tentang fenomena ruangan terisolasi bernama 'The Backrooms'. Sang putri secara terus terang menyebut bahwa perilaku ayahnya sangat mirip dengan karakter utama dalam kisah tersebut: penuh ilusi, emosional, dan tidak pernah merasa bersalah.

Read nextMengenang Benjamin: Air Kehidupan, Kasih Keluarga, dan Harapan Bersama Santo Carlo

Sang ibu mengungkapkan bahwa suaminya berasal dari keluarga berkecukupan yang sejak awal memang membatasi akses keuangannya. Setelah dipindahkan jauh dari keluarga besarnya dengan janji-janji manis, ia dilarang melanjutkan pendidikan dan tidak diizinkan memiliki uang sendiri. Kebutuhan khusus kedua anak mereka semakin mengunci ruang geraknya untuk mencari pekerjaan mandiri.

"Saya lelah terus-menerus dimarahi di depan anak-anak. Namun, suami saya benar-benar menganggap dirinya adalah pria baik-baik," ungkapnya. Perasaan bersalah yang paling mendalam muncul ketika ia menyadari bahwa putrinya juga merasakan dan menyaksikan seluruh dinamika toksik tersebut selama ini.

Your brand, right here.Reach story-obsessed listeners in 45+ languages → advertise on Avonetics

Tangggapan masyarakat terbelah menjadi dua pandangan tajam. Salah seorang pengamat dinamika keluarga menegaskan bahwa bertahan dalam hubungan beracun demi anak adalah kekeliruan besar. Seorang komentator menyatakan bahwa anak-anak yang tumbuh dengan orang tua yang pasrah dan membiarkan kekerasan verbal terjadi justru mengalami trauma yang lebih berat di masa depan. Menurutnya, jalur hukum dan hak nafkah anak bisa menjadi pintu keluar yang sah.

Namun, pihak lain menyerukan kehati-hatian. Membesarkan anak autis tanpa sumber daya pribadi membuat posisi sang ibu sangat rentan. Seorang penasihat hukum swadaya menyarankan agar sang ibu tidak terburu-buru mengambil langkah ekstrem sebelum memiliki tabungan rahasia dan jaringan pengaman. Risiko hak asuh jatuh ke tangan suami yang emosional tanpa pendampingan ibu menjadi ancaman terbesar bagi keselamatan anak-anak.

Dilema antara keluar secepatnya atau menyusun strategi rahasia terlebih dahulu kini menjadi perdebatan hangat di masyarakat. Kedua pembawa acara kami mengupas tuntas konflik emosional ini dalam episode terbaru podcast.

0:00
0:00
Link copied ✓