Avonetics › Nada Sumbang › story

Konser Jadi Neraka: Saat Penggemar Lupa Cara Bernapas di Tengah Kerumunan

Dari serangan panik di Philadelphia hingga drama TikTok di konser Chappell Roan, etika konser modern sedang diuji di batas akalnya.
Indonesian

Konser Jadi Neraka: Saat Penggemar Lupa Cara Bernapas di Tengah Kerumunan · Avonetics

🎧 Podcast episode
Coming soon — Budi dan Indah are taking this one into the studio.
Sponsored—As an Amazon Associate, Avonetics earns from qualifying purchases. The Breakup The Breakup: A Novel - Kindle edition by Andersen, Kurt. Download it once and read it on your Kindle device, PC, phones or tablets. Use features like bookmarks, note taking and hig… See it →

Kekacauan di Electric Factory, Philadelphia, tahun 2015, masih menghantui seorang penggemar berusia 15 tahun. Dalam ingatan yang hidup, ia menggambarkan bagaimana tubuhnya tersapu ke depan begitu cepat saat lagu 'Mowgli's Road' dimulai oleh Marina and the Diamonds. Ia tidak bisa bernapas. Dinding manusia itu bergerak, mendorong, dan menghimpit hingga ia mengalami serangan panik yang memaksanya mundur ke barisan belakang. Ayahinya, seorang penggemar konser sejati, terkejut melihat intensitas kerumunan pop yang ia sebut 'berbahaya'.

Kisah ini bukan isolasi. Ia menjadi cermin bagi ribuan penggemar yang merasa etika konser telah berubah. Di era di mana konten TikTok lebih penting daripada lirik lagu, dinamika antara penonton dan musisi telah bergeser. Satu penggemar menceritakan bagaimana video dirinya menari sendirian di konser Chappell Roan viral, mengubah momen sukacita menjadi sumber rasa malu yang berkepanjangan. Ia tidak bisa keluar rumah selama dua tahun, takut menjadi bahan ejekan lagi. Bagi banyak orang, ini adalah bukti bahwa 'perang fandom' kini terjadi di layar ponsel, bukan hanya di panggung.

Read nextDua Rumah, Satu Kengerian: Ketika Suara Bayi dan Bayangan di Hutan Jadi Bukti yang Tak Bisa Diabaikan

Namun, bukan hanya media sosial yang menjadi masalah. Ada keluhan tentang penonton yang berbicara satu sama lain saat musik dimainkan, seolah-olah penyanyi hanyalah latar belakang. Ada juga yang terganggu oleh penonton yang mengangkat senter ponsel ke wajah artis hanya demi mendapat perhatian di video. Di sisi lain, ada keluhan tentang orang tua yang membawa anak-anak kecil ke area 'barricade' dengan alasan ulang tahun, mengabaikan fakta bahwa area tersebut bisa berbahaya bagi anak kecil.

Di sisi lain, ada perspektif yang lebih lembut. Seorang penggemar yang menonton konser Aurora di China menggambarkan pengalaman yang sangat berbeda: seluruh penonton duduk, hening, dan mendengarkan dengan seksama. Tidak ada teriakan, tidak ada dorongan. Bagi penggemar Barat yang terbiasa dengan energi tinggi, hal ini terasa 'mati'. Bagi yang lain, ini adalah bentuk penghormatan tertinggi.

Sponsored—As an Amazon Associate, Avonetics earns from qualifying purchases. Hamnet Hamnet - Kindle edition by O See it →

Perdebatan ini bukan hanya tentang siapa yang salah. Ini tentang bagaimana kita menikmati musik bersama. Apakah kita sudah kehilangan koneksi manusia di tengah kerumunan? Ataukah kita hanya belum menemukan cara baru untuk berbagi momen itu? Satu hal pasti: di era di mana setiap momen bisa direkam dan dibagikan, tekanan untuk tampil sempurna di depan kamera telah mengubah pengalaman konser menjadi sesuatu yang lebih rumit, lebih rentan, dan lebih personal dari sebelumnya.

Tonton bagaimana host kami membedah setiap aspek kontroversi ini, dari serangan panik hingga drama keluarga, di podcast terbaru kami.

Sponsored—As an Amazon Associate, Avonetics earns from qualifying purchases. Lenovo 16 IPS FHD+ i7-13620H Office Powerful Intel Core i7 Performance: Equipped with Intel Core i7-13620H processor featuring 10 cores (6 Performance + 4 Efficiency cores) and 16 threads, with P-core speeds up to 4.… See it →
0:00
0:00
Link copied ✓
↑